Kemarahan Mourinho Meski Real Madrid Menang

Kemarahan Mourinho Meski Real Madrid Menang

Kemarahan Mourinho Meski Real Madrid Menang di El Clasico Melawan Barcelona, disebabkan Wasit VAR tertidur. Jose Mourinho meluapkan kekesalannya terhadap petugas Video Assistant Referee (VAR).

Walaupun Real Madrid sukses meraih kemenangan dramatis atas Barcelona dalam duel El Clasico, Senin (26-10-2026) dini hari WIB. Pelatih asal Portugal itu menilai VAR melewatkan insiden penting yang seharusnya berujung kartu merah bagi pemain tuan rumah.

Madrid membawa pulang kemenangan 2-1 dari markas Barcelona, Camp Nou, berkat dua gol Kylian Mbappe. Gol penentu kemenangan yang tercipta pada menit ke-87 memastikan Los Blancos memangkas jarak menjadi tiga poin dari rival abadinya tersebut dalam persaingan di La Liga.

Hasil positif itu juga diwarnai selebrasi khas Mourinho. Pelatih berusia 63 tahun tersebut melakukan knee slide di pinggir lapangan setelah Mbappe mencetak gol kemenangan.

Aksi itu mengingatkan publik pada selebrasi ikonisnya 14 tahun silam, ketika Cristiano Ronaldo mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-90 melawan Manchester City di Liga Champions.

Mourinho

Namun, kegembiraan Mourinho tidak sepenuhnya menutupi kekecewaannya terhadap keputusan perangkat pertandingan. Dalam konferensi pers seusai laga, ia secara khusus menyoroti kinerja petugas VAR yang dianggap gagal menjalankan tugasnya dengan baik.

“Wasitnya tampil hebat, tetapi VAR tertidur,” kata Mourinho.

Ia kemudian menjelaskan insiden yang menurutnya layak mendapatkan perhatian lebih serius dari perangkat pertandingan. Mourinho menilai Joao Cancelo semestinya diganjar kartu merah setelah melakukan pelanggaran terhadap Yan Diomande.

“Ada kartu merah yang jelas untuk Cancelo terhadap Diomande yang seharusnya mengubah jalannya pertandingan,” lanjutnya.

Wasit Juan Martinez Munuera membiarkan pertandingan berlanjut ketika insiden tersebut terjadi. Namun, tayangan ulang memperlihatkan Cancelo seperti menginjak kaki Diomande.

Sepanjang pertandingan, Mourinho tampil emosional di pinggir lapangan. Ia beberapa kali menunjukkan reaksi keras terhadap jalannya laga, bahkan sempat harus ditenangkan oleh wasit. Meski demikian, suasana hatinya berubah setelah peluit panjang berbunyi.

Mourinho menyeberangi lapangan untuk memeluk Andriy Lunin, kiper pelapis yang tampil menggantikan Thibaut Courtois akibat flu. Setelah merayakan kemenangan secara eksplosif, ia kembali menunjukkan sikap tenang dengan berjalan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku.

Di balik kemenangan penting tersebut, Mourinho menegaskan keberhasilan menaklukkan Barcelona bukanlah tujuan akhir Real Madrid. Ia ingin para pemain tetap berfokus pada perburuan gelar La Liga dan tidak larut dalam euforia kemenangan di El Clasico.

“Menurut saya, Real Madrid tidak bermain untuk menang di Camp Nou. Real Madrid bermain untuk menjuarai La Liga,” ujar Mourinho.

“Ini harus menjadi mentalitas kami. Kami harus terus seperti ini dan tidak terlalu berlebihan setelah kemenangan ini.”

Pernyataan itu mencerminkan ambisi Mourinho dalam menjalani periode keduanya bersama Madrid. Tim asuhannya sedang menunjukkan konsistensi dengan meraih delapan kemenangan dalam sembilan pertandingan terakhir di seluruh kompetisi.

Kemenangan atas Barcelona sekaligus mengakhiri awal musim liga yang sempurna bagi rival mereka tersebut. Hasil ini juga membuat Madrid kembali unggul dalam catatan pertemuan sepanjang sejarah El Clasico.

Los Blancos kini mengoleksi 107 kemenangan atas Barcelona, sedangkan Blaugrana telah memenangi 106 pertandingan. Kedua tim juga tercatat 52 kali bermain imbang dalam rivalitas yang telah berlangsung sejak 1888.

Bagi Mourinho sendiri, hasil tersebut membuat rekornya dalam El Clasico menjadi enam kemenangan, enam hasil imbang, dan enam kekalahan. Catatan itu menambah warna dalam perjalanan persaingan panjang antara dua klub terbesar Spanyol tersebut.